Dzikir: Pembebas Jiwa dari Kemunafikan

“…Dan tidaklah mereka (orang munafik) menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. an-Nisa: 142).

“Barangsiapa yang memperbanyak dzikir, niscaya ia akan terbebas dari sifat munafik.” (al-Hadits).

Dari ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa dengan memperbanyak dzikr dapat melepaskan diri dari sifat munafik. Dengan berdzikir, Allah juga akan mengingat kita. Dan, apabila Allah mengingat kita, doa-doa kita dikabulkan-Nya, kesedihan kita dihilangkan-Nya, hati kita diberikan ketentraman oleh-Nya, dan bertambah khusyu’ batin kita. Oleh karenanya, Allah memerintahkan agar kita berdzikir sebanyak-banyaknya, tanpa batas waktu, dalam keadaan bagaimana pun; duduk, berdiri, berbaring; siang, sore, malam, pagi; satu menit, satu jam, dua jam, semata-mata untuk diri kita.

“…Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41).

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring…” (QS. Ali Imran: 191).

Dzikir yang kita lafazkan akan kembali pada diri kita. Begitupun dengan maksiat yang kita lakukan akan kembali pada diri kita juga. Di akhirat nanti, setan-setan yang pernah menjerumuskan kita akan berlepas diri dari apa yang kita lakukan. Sehingga yang timbul di hati kita adalah rasa kesal yang mendalam, mengapa dulu kita mau mengikuti bujuk rayu mereka. Namun pada saat itu penyesalan tidak lagi berguna. Jadilah penyesalan itu abadi dan rasa bersalah hanya menambah kehancuran bagi diri kita. 

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah’.” (QS. an-Naba: 40).

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. an-Nisa: 120).

Mengapa orang munafik enggan mengingat Allah? Karena, apa yang biasa mereka lakukan bertentangan dengan perintah Allah. Sehingga ketika mereka beramal, terasa berat sekali lakukan. Hati dan pikiran mereka condong pada hawa nafsu. Bagaimana mungkin iman dan maksiat dapat bersatu pada diri seorang mukmin? Kecuali salah satu di antara keduanya keluar sebagai pemenang, dan yang satu lagi menyingkiri kalah. Jika iman yang menang, maka hatinya kembali bersih bercahaya. Tapi jika kalah, maka hatinya pun mati; tak ada pendengaran yang hakiki, tak ada penglihatan yang hakiki, tak ada petunjuk.

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. al-Baqarah: 9-10).

Jika kita sangat ingin berbuat maksiat, cobalah mengingat Allah agar maksiat itu redup. Orang yang merasakan keagungan dan kebesaran Allah akan merasa malu untuk berbuat maksiat. Hal itu perlu dilatih, yaitu dengan mentadaburi ayat-ayat Al Quran, mentafakuri ayat-ayat kawniyah-Nya, dan mentadzakuri asma-asma-Nya.

Jangan pernah ragu untuk berdzikir. Mungkin saja engkau tidak merasakan manisnya dzikir di awal berdzikir. Tapi, percayalah! Dzikir itu ibarat sebuah mesin yang dapat membuat listrik kembali menyala. Atau, sebuah baterai jiwa yang engkau charge hingga penuh kembali. Saat penuh itulah, ia dapat menyalakan kembali dirimu; menyalakan kembali semangat dalam beramal, ikhlas, dan mau menerima kebenaran-Nya.

Mulla Ali Qari berkata, “Seorang murid telah mengeluh kepada gurunya dengan berkata, ‘Aku telah berdzikir, tetapi hatiku tetap lalai’. Gurunya menjawab, ‘Hendaklah kamu teruskan dzikir itu dan bersyukurlah kepada Allah yang telah melimpahkan taufik kepada anggota tubuhmu (lidahmu) untuk menyebut-Nya. Sedangkan untuk kehadiran hati, maka berdoalah kepada Allah Swt..” (Syaikh Maulana Zakariyya al-Kandhalawy, Fadhail Amal, hlm. 183, 2001, Pustaka Ramadhan).

Dzikir adalah esensi keberadaanmu di dunia ini. Tanpa dzikir, engkau akan binasa. Tanpa dzikir, engkau ibarat orang yang telah mati. Dengan dzikir, engkau akan selamat dan bahagia dunia-akhirat. Kita beramal saleh karena kita ingat Allah. Jika tidak mengingat Allah, ingat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kita tidak akan beramal saleh.

Beruntunglah orang-orang yang berdzikir dan mau meresapi makna yang terkandung dalam dzikir tersebut. Sehingga kemudian hatinya pun kembali tenang dan bahagia. Misalnya saja, cobalah engkau ucapkan dzikir astaghfirullahal adzim dan resapilah maknanya; Allah Yang Maha Pengampun pasti akan mengampuni dosa-dosa hamba-hamba-Nya yang memohon ampunan. Ketika mengucapkan dzikir-dzikir itu sebanyak-banyaknya, ingat-ingatlah dosa-dosamu yang telah lalu, sesungguhnya semua itu hanya akan membinasakanmu kecuali jika engkau beristighfar. Dengan keyakinan yang penuh kepada Allah, rasakanlah dosa-dosa yang telah berlalu itu seolah-olah berguguran dalam dirimu. Jadilah hatimu kembali bercahaya dan semua noda-noda yang melekat sirna. Jadilah dirimu naik ke angkasa kesempurnaan dan kemuliaan. Jadilah imanmu bertambah. Dengan iman itulah, bekal perjalananmu, memotivasimu untuk menjadi yang terbaik, dan mengerahkan seluruh bakat dan potensi dirimu untuk kemuliaan agama-Nya.

Raihlah ketenangan dengan dzikir. Raihlah kehidupan hati dengan dzikir. Raihlah semangat beramal dengan dzikir. Raihlah kebaikan di dunia ini dengan dzikir. Dan, bebaskanlah jiwa dari segala bentuk kemunafikan dengan dzikir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari dalam Perjuangan Bangsa

Manfaat Mempelajari Tafsir Alquran

Akibat Berbuat Zalim

Tiga Sebab Keruntuhan Peradaban Islam di Andalusia

Mengapa Banyak Orang Barat Menjadi Ateis?