Seorang Yahudi bernama Ibnu an-Naghrilah menghina dan “menginjak-injak” al-Quran, namun tidak ada yang menegurnya apalagi menghukumnya. Bahkan pemimpin di negerinya, Badis bin Habus, justru membela si Yahudi itu. Dengan kemarahan yang menyala-nyala, Imam Ibnu Hazm kemudian menulis buku berjudul ar-Rad’ ala Ibni an-Naghrilah al-Yahudi (Bantahan terhadap Ibnu an-Naghrilah si Yahudi). Namun anehnya seruannya itu malah dianggap penghinaan. Beliau kemudian diusir da ri negerinya, diasingkan, dan kekayaannya di sita negara. Keadaannya yang cukup menyedihkannya ini membuatnya menulis, “…dan tuan tahu bahwa pikiranku goncang, perasaanku hancur karena jauh dari negeri sendiri, sunyi dari tanah kelahiran, berubahnya waktu, hukuman sultan, berubahnya para sahabat, buruknya kondisi, hilangnya masa senang, keluar dari semua harta kekayaan dari yang kecil sampai yang besar, terputus dari hasil usaha bapak dan nenek para leluhur, merasa asing dalam negeri, hilang harta dan kehormatan, pikiran me...