Postingan

Menampilkan postingan dengan label menuntut ilmu

Hakikat Mempelajari Ilmu Agama

Gambar
Mempelajari ilmu agama bukanlah agar ingin disebut ahli ilmu agama atau dapat menang dalam debat atau untuk merendahkan orang yang dibawahnya. Tapi menuntut ilmu agama adalah untuk meraih maqam takut kepada Allah. "Setiap yang takut kepada Allah maka dialah orang yang Alim, dan ini adalah haq. Dan bukan berarti setiap yang alim akan takut kepada Allah." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Majmu Fatawa)

Tuntutlah Ilmu Mulai dari Buaian Hingga Liang Lahat

Gambar
Pada detik-detik terakhir ketika ajal hendak menjemput Abu Raihan Al Biruni, beliau masih ingin membahas permasalahan ilmu yang belum tuntas jawabannya. Saat detik-detik kematian beliau, ada sahabatnya yang bernama Abu Hasan al-Walwajiyi hadir menjenguknya. Beliau telah mendengar pendapat Abu Hasan tadi tentang bagian warisan nenek yang ternyata kurang tepat. Pada saat itu Abu Hasan merasa kaget dan bertanya, “Apakah dalam situasi genting semacam ini engkau masih membahas tentang pendapat saya sementara engkau hendak meninggalkan dunia ini?” Kemudian beliau menjawab, “Apakah pantas saya meninggalkan dunia ini sementara saya tahu tentang suatu masalah dan saya tidak membenarkannya?”. Yang hidup malas menuntut ilmu. Sedangkan engkau, yang mau mati, masih membahas ilmu dengan senang hati.

Menuntut Ilmu Agama Harus Diikuti Ketakwaan

Gambar
Menuntut ilmu agama haruslah diiringi dengan ketakwaan. Karena jika telah memperoleh banyak ilmu, biasanya timbul dalam hati perasaan ujub. Sedangkan ketakwaan membawa hati tetap tawadhu. Bahwa di atasnya masih ada orang yang lebih tinggi ilmunya. Dan semua ilmu pada akhirnya adalah milik Allah Azza wa Jalla. Al Hasan Al Bashri berkata, “Tahukah kalian apa itu  tawadhu’ ?  Tawadhu’  adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.” Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)