Status WA 12


1. اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

Mereka istihza, mengolok-olok dan menghina Nabi. Mereka menghina Islam dan berpikir jika mereka lebih baik daripada yang mereka hina itu. Allah pun menghibur Nabi dan umat Islam lewat ayat ini, sesungguhnya yang terputus (الْاَبْتَرُ) adalah mereka, para penghina itu. Yakni terputus dari rahmat Allah. Maka, berhati-hatilah dari melakukan istihza, banyak sekali peristiwa, dalam sejarah manusia, tentang kebinasaan bagi orang yang melakukan istihza.

2. Jangan sekedar melaksanakan shalat. Yakni, menggugurkan kewajiban shalat di akhir waktu. Menurut para ahli tafsir Alquran, akibatnya فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ, mereka mendapat kecelakaan atau kebinasaan. Btw, menunda-nunda shalat di akhir waktu saja sudah termasuk pelanggaran berat, apalagi mereka yang tidak mengerjakan shalat sama sekali. Astaghfirullahal adziim wa atubu ilaih.

3. Sebagian orang berharap dengan banyaknya ibadah yang dia lakukan dapat meraih karomah semisal punya ilmu kebal, dapat terbang di udara, atau hal-hal diluar logika lainnya. Padahal ada karomah yang lebih dahsyat daripada itu semua, yang mana para ulama dan orang-orang saleh sangat mengharapkannya, yaitu Istiqomah. Sehingga para ulama menyebutkan: "Al Istiqomah khairun min alfi karomah", istiqomah lebih baik daripada seribu karomah. Maka menjadi takjub hati ini melihat orang yang taat beribadah hingga akhir hayatnya.

4. Biasakan kita membaca La ilaha illallah sebelum tidur, karena pada hakikatnya kita sedang menghadapi "kematian kecil". Dan terbuka baginya menuju "kematian besar" dalam tidur itu. Betapa banyak orang yang wafat dalam posisi tertidur dan tidak bangkit lagi sesudahnya. "Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah kalimat la ilaha illallah, maka dia akan masuk surga." (HR. Abu Dawud)

5. Sering sekali berlatih untuk diam itu lebih sulit daripada berlatih untuk bicara. Orang awalnya berbicara biasa namun lama kelamaan kehilangan esensinya. Ngelantur kemana-mana, ngegosip sampai memfitnah, berkata jorok sampai berdusta. Menarik jiwa kita kembali darinya adalah dengan istighfar, menghentikan pembicaraan, dan bila perlu menjauh darinya. 

6. Apa yang kita raih hari ini, entah kesuksesan atau kekayaan kita, tidak berdiri atas apa yang kita usahakan sendiri. Apalagi jika semua itu diraih di atas jalan istidraj. Mungkin ada doa orangtua, doa anak-istri, ada doa orang-orang yang telah kita bantu, ada orang-orang saleh yang bersama mengiringi kerja kita, ada orang yang ikhlas, dst. Cobalah ciptakan berbagai kemungkinan dalam hati dan pikiran kita, agar kita tetap tawadhu dan senantiasa mengingat Allah. 

7. "Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya (gelap gulita), demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan), demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya."

7 kali Allah bersumpah demi makhlukNya, berturut-turut, dalam 1 surat, Asy Syams. Untuk apa? Agar menjadi perhatian bahwa Allah ingin menunjukkan sesuatu yang sangat penting kepada kita: maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari dalam Perjuangan Bangsa

Manfaat Mempelajari Tafsir Alquran

Akibat Berbuat Zalim

Tiga Sebab Keruntuhan Peradaban Islam di Andalusia

Mengapa Banyak Orang Barat Menjadi Ateis?