Perkataan Ulama Tentang Keutamaan Al-Qur'an

“Kalau hati kita bersih, maka kita tidak pernah kenyang dengan al-Qur’an.” (Utsman bin Affan)

“Hidup dalam naungan Al-Qur’an adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.” (Asy-Syahid Sayyid Quthb)

"Selayaknya bagi manusia untuk meluangkan sedikit waktunya agar dia mendapatkan tuntunan yang bernilai tinggi dan membebaskan dirinya dari kerugian. Caranya ialah dengan memahami Al-Qur'an dan mengeluarkan kandungannya. Karena hanya inilah yang bisa mencukupi kemaslahatan hamba di dunia dan di akhirat serta yang bisa mengantarkan mereka ke jalan lurus." (Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

Ka’ab Ra. berkata: Kami dapati tertulis (di dalam kitab suci lain): “Muhammad adalah Rasulullah Saw., tidak kasar, tidak pemarah, tidak berteriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan akan tetapi memaafkan dan mengampuni, dan umat (para shahabat)nya adalah orang-orang yang selalu memuji Allah, membesarkan Allah ‘Azza wa Jalla atas setiap perkara, memuji-Nya pada setiap kedudukan, batas pakaian mereka pada setengah betis mereka, berwudhu sampai ujung-ujung anggota tubuh mereka, yang mengumandangkan adzan mengumandangkan di tempat atas, shaf mereka di dalam pertempuran dan di dalam shalat sama (ratanya), mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam, tempat kelahiran beliau adalah Mekkah, tempat hijranya adalah Thayyibah (Madinah) dan kerajaannya di Syam.”

Maksud dari “mereka memiliki suara dengungan seperti dengungannya lebah pada waktu malam” adalah: “Suara yang lirih berupa ucapan tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa Ilaaha Illallah), dan bacaan Al Quran seperti dengungannya lebah”. (Lihat kitab Mirqat Al Mafatih Syarh Misykat Al Mashabih).

“Khabbab bin Al Arat Ra. berkata: “Beribadah kepada Allah semampumu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) firman-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).

“Abdullah bin Mas’ud Ra. berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).

“Berkata Wuhaib rahimahullah: “Kami telah memperhatikan di dalam hadits-hadits dan nasehat ini, maka kami tidak mendapati ada sesuatu yang paling melembutkan hati dan mendatangkan kesedihan dibandingkan bacaan Al Quran, memahami dan mentadabburinya”.

Ibnu Mas’ud Ra. berkata, “Al-Quran diturunkan kepada kalian untuk diamalkan, karena itu perlihatkan bacaan kalian ke dalam perbuatan. Banyak di antara manusia yang mampu membaca Al- Quran sejak awal (Al-Fatihah) hingga akhir (An-Naas) dan tidak terlewatkan sehuruf pun darinya, namun tidak berusaha menerjemahkan ke dalam perbuataannya.”

Ibnu Mas’ud Ra. berkata: “Apabila kalian ingin meraih ilmu pengetahuan, maka kenalilah Al-Quran, karena sesungguhnya Ia memuat dan menyimpan ilmu orang-orang terdahulu dan terkemudian.”

Amir bin Ash Ra. berkata: “Setiap ayat Al-Qur’an adalah salah satu pintu surga dan seberkas cahaya dalam rumahmu, barangsiapa membaca Al-Quran seolah-olah pintu kenabian terbuka dari kedua sisinya, hanya saja tidak turun wahyu kepadanya.”

Abu Hurairah Ra. berkata: “Rumah yang Al-Quran didalamnya tidak pernah dibaca, niscaya sempitlah dada penghuninya, sedikit kebajikannya, para malaikat pergi dan setan berdatangan.”

Al-Imam Fathul Mausuli berkata: “Apabila hati tidak diisi oleh Al-Quran selama 3 hari maka matilah hati itu, karena makanan hati adalah Al-Quran sebagaimana tubuh dapat hidup dengan makanan. Orang yang tidak berilmu hatinya akan sakit kemudian mati.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari dalam Perjuangan Bangsa

Manfaat Mempelajari Tafsir Alquran

Akibat Berbuat Zalim

Tiga Sebab Keruntuhan Peradaban Islam di Andalusia

Mengapa Banyak Orang Barat Menjadi Ateis?