Postingan

Menampilkan postingan dengan label ulama

Hakikat Mempelajari Ilmu Agama

Gambar
Mempelajari ilmu agama bukanlah agar ingin disebut ahli ilmu agama atau dapat menang dalam debat atau untuk merendahkan orang yang dibawahnya. Tapi menuntut ilmu agama adalah untuk meraih maqam takut kepada Allah. "Setiap yang takut kepada Allah maka dialah orang yang Alim, dan ini adalah haq. Dan bukan berarti setiap yang alim akan takut kepada Allah." (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Majmu Fatawa)

Adab Kepada Dua Ulama yang Berbeda Pendapat

Gambar
Akhlak seorang muslim kepada saudaranya adalah cerminan hatinya yang bersih. Maka melahirkan kasih sayang yang sangat indah diantara keduanya. Asyiddau alal kuffar dan Ruhama bainahum adalah dua karakteristik yang dimiliki umat Nabi Muhammad Saw.  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah seorang mujtahid di madzhab Hanbali. Meski banyak perbedaan pandangan, Ibnu Taimiyyah tetap menghormati ulama madzhab lain. Pada suatu saat, ‘Alauddin Al Baji (724 H), salah satu ulama madzhab As Syafi’i, mutakallim dari kalangan Asy`ari, yang mempunyai majelis perdebatan bertemu dengan Ibnu Taimiyah. Al Baji berkata kepada Ibnu Taimiyah: ”Bicaralah, kita membahas permasalahan denganmu.” Akan tetapi Ibnu Taimiyah menjawab,”Orang sepertiku tidak akan berbicara di hadapan Anda, tugasku adalah mengambil faidah dari anda.” ( Tabaqat As Syafi’iyah Al Kubra , 10/341) Syaikh Syamsuddin Ad Diruthi adalah ulama besar, seorang faqih Mesir bermadzhab Asy Syafi’i, pensyarah kitab Al...

Ulama dan Kejayaan Umat

Gambar
Sepengetahuan saya yang fakir ini. Para pemimpin Islam yang berjiwa pejuang, mereka sangat dekat dengan para ulama. Sultan Nuruddin Zanki yang disebut Ibnu al Atsir, seorang sejarawan Muslim penulis kitab Al-Kamil fi-l-Tarikh , menganggapnya sebagai pemimpin Muslim yang paling adil selepas Umar bin Abdul Aziz. Dikenal karena kesalehannya. Dia sangat memperhatikan keadaan ulama di zamannya. Sehingga yang kekurangan akan tercukupi kebutuhannya. Menurut Ibnu al-Asakir, majelis-majelis ilmu yang dihadiri oleh Nuruddin bersama para ulama sangat berbobot dan berkharisma. Saat mereka duduk untuk membahas ilmu, keadaannya begitu khusyu’, “… seakan di atas kepala kami ada burung-burung berterbangan disebabkan kewibawaannya,” terang Ibnu al-Asakir. Maka begitu pula para ulama menyintai, menghormati, dan mendukung perjuangan yang dilakukannya. Sultan Shalahuddin Al Ayyubi pun demikian. Sebagai penerus Zanki, beliau sangat memperhatikan apa yang telah dilakukan oleh pendahuluny...

Bukan Ulama Biasa

Gambar
Lucu juga membaca satu kisah dalam buku " Bukan Ulama Biasa " yang ditulis Prof. DR. Muhammad Rajab Al Bayyumi. Disebutkan, ada seorang sultan dari Daulah Mamalik bernama Al Ghauri. Dia dikenal karena kezalimannya kepada ulama. Pada suatu ketika Al Ghauri membangun sebuah masjid yang megah dan mewah. Dana pembangunannya besar tidak sepadan dengan kondisi rakyatnya yang kekurangan. Seorang ulama fikih yang dahulu pernah ditindas Al Ghauri ditanya tentang masjid itu. Dia menjawa b, "Sungguh, ini adalah masjid haram." Mendengar hal itu segolongan besar manusia menjadi riuh oleh tepuk tangan. Berita ini sampai ke telinga Al Ghauri, amarahnya meledak, lalu dia memerintahkan untuk memanggil ulama fikih tadi supaya memperoleh hukuman atas ucapannya. Tetapi sang ulama pandai berdiplomasi, dengan tenang dia menjawab, "Maksudku masjid itu serupa dengan masjid al haram di kota Makkah. Jadi manusia harus menghormatinya dengan penuh keagungan dan kemuliaan." ...

Konstribusi Ulama Bagi Peradaban Dunia

Gambar
Membaca buku ulama-ulama di era keemasan Islam seperti melihat para ekonom, pengamat politik, filsuf, sejarawan, dan psikolog sedang berbicara. Maksud saya, mereka adalah ulama yang peka di zamannya. Mereka tidak sebatas menghabiskan waktu dengan buku-buku tempo dulu. Tapi juga membuka cakrawala berpikir dan realita masa kini. Mereka mempelajari dan menulis apa yang sedang berkembang di zamannya dengan sangat detail. Kehadiran mereka benar-benar memberikan solusi untuk umat di zamannya. Semangat seperti ini seharusnya ada dalam diri kita agar umat Islam lebih banyak mengambil perannya untuk bangsa bahkan dunia.

Menjaga Adab Terhadap Ulama

Gambar
Bagi saya, Ibnu Taimiyah itu adalah seorang pemikir besar seperti halnya Al Ghazali, Ibnu Hazm, Al Qurthubi, dsb. Pendapatnya bisa diterima dan juga bisa ditinggalkan sebagaimana juga pendapat ulama lainnya. Oleh karena itu, mereka yang menghina ulama seperti Ibnu Taimiyah atau Al Ghazali atau yang lain, sungguh mereka adalah orang-orang yang kurang adab. Dan, ilmu mereka menjadi rusak karena kurang adab terhadap ulama.

Ilmu Membawa Manusia Takut Kepada Allah

Gambar
Ketika saya memikirkan tentang definisi ulama, saya membaca ayat ini, “Sesungguhnya hamba yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (S. Fathir: 28) Dalam kehidupan ini manusia terbagi ke dalam dua golongan: Pertama golongan orang yang bodoh. Maka kebodohannya itulah yang menjadi penyebab rendahnya rasa takut kepada Allah. Kedua, golongan orang yang berilmu. Pada golongan ini masih bisa diharapkan takut kepada Allah. Mungkin karena dorongan hawa nafsu, ia melupakan apa ya ng ia ketahui sebelumnya. Namun ketika diingatkan, ia kembali sadar, meneteskan airmata dan bertaubat karena kesalahannya itu. Sedangkan bagi orang yang bodoh, ia tidak tahu untuk apa ia bertaubat, untuk apa ia beramal saleh. Ketika di ajak untuk berbuat kebaikan, ia malah memusuhinya. Saya pernah meneliti tentang orang-orang yang masuk Islam dan keluar dari Islam. Siapa mereka dan mengapa mereka masuk dan keluar dari Islam. Ternyata kebanyakan dari mereka yang masuk Islam adalah orang-orang yang beril...

Rakyat Rusak karena Ulama dan Penguasanya Menyimpang

Gambar
"Sesungguhnya rusaknya rakyat terjadi karena rusaknya penguasa; dan rusaknya penguasa terjadi karena rusaknya ulama." (Imam Al Ghazali) Mengomentari pernyataan Imam Al Ghazali di atas, Dr. Adian Husaini berkata, "Maka, renungkan: Jika penguasa saat ini rusak, jangan-jangan, memang bermula dari kerusakan yang terjadi di dunia pendidikan, diawali oleh kerusakan ulama dan cendekiawan!" Saat ini institusi pendidikan Islam mulai dari madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi sudah mulai banyak disusupi oleh pemikiran Islam liberal oleh kalangan penganutnya. Akibatnya, banyak dari kyai, santri, dan mahasiswa teracuni oleh pemikiran itu.  Ketika kalangan ulama sudah rusak pemikirannya maka bisikan yang masuk ke telinga penguasa juga ikut menyimpang. Akibatnya lahirlah penguasa yang menyimpang; jauh dari Allah dan Rasul-Nya. Karena penguasa punya kekuasaan, lantas ia gunakan kekuasaannya tersebut untuk merusak rakyatnya. Karena sudah rusak, mereka akhirnya...

Ahli Multidisiplin Ilmu: Belajar dari Ulama Zaman Keemasan Islam

Gambar
Hampir tidak mungkin orang yang belajar ilmu ekonomi tidak mengenal Paul A. Samuelson. Dialah penulis buku  Economics   yang kesohor itu. Tapi mungkin banyak orang yang tidak tahu jika dia adalah seorang profesor matematika dan bekerja di Laboratorium Radiasi universitas paling terkemuka saat ini, MIT. Sejarah penulisan buku  Economics  dimulai saat Samuelson berusia 30 tahun. Saat itu atasannya menyuruhnya untuk menulis buku teks ilmu ekonomi mahasiswa MIT. Ilmu matematika sangat membantunya untuk menguasai ilmu ekonomi. Justru berkat pendekatan matematika dalam ilmu ekonomi, Samuelson berhasil meraih hadiah nobel ekonomi pada tahun 1975, menyingkirkan ilmuwan ekonomi lainnya yang notabene adalah guru besar "asli" ekonomi. Jika Samuelson mampu menguasai dua bidang ilmu sekaligus, di zaman keemasan Islam, para ulama mampu menguasai lebih dari itu. Imam Abu Hanifah pernah berkata, "Bila memakai sandal adalah ilmu pengetahuan, maka aku akan mempelajarinya....

Ulama Sejati VS Ulama Oplosan

Gambar
Di dalam sejarah banyak tercatat kisah tentang kehidupan para ulama. Namun di antara para ulama itu terdapat oknum-oknum yang menyesatkan umat. Dengan fatwa-fatwanya mereka menjerumuskan umat pada kebatilan. Mereka menguasai dalil namun dimanipulasi agar sesuai dengan hawa nafsu mereka.  Rasulullah Saw.   telah mengingatkan umat akan bahaya mereka. Beliau   bersabda -setelah menyebutkan jangkauan kekuasaan umatnya-, إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ " Sesungguhnya yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah para pemimpin yang menyesatkan. " (HR. Ad-Darimi dalam Shahihnya dari haidts Tsauban, Imam Abu Dawud al-Thayalisi dari hadits Abu Darda') Penggunaan kata "innama" secara umum memiliki makna hashar (pembatasan). Ini menunjukkan besarnya bahaya pemimpin penyesat. Pemimpin penyesat adalah pemimpin sesat yang mencakup penguasa perusak, ulama penyesat, dan ahli ibadah yang sesat (ngawur). Keberadaan mereka...