Postingan

Menampilkan postingan dengan label Imam asy syafi'i

Integralitas Keilmuan Muslim Dulu dan Kini

Gambar
P ara ulama zaman dahulu dikenal ensiklopedis, ilmu apa saja yang berkembang saat itu, dipelajari. Kata Imam Abu Hanifah, kalau memakai sandal adalah ilmu maka akan aku pelajari. Imam Asy Syafi'i belajar ilmu firasat dan kedokteran. Pernah seorang tabib berdiskusi dengan Imam Asy Syafi'i, dia kaget dengan luasnya keilmuan kedokteran yang dimiliki sang Imam. Imam Bukhari selain dikenal ahli hadits, dikenal juga ahli memanah yang tiada tanding di zamannya. Imam Ibnul Qayyim menulis buku tentang psikologi cinta dengan sangat bagus. Para ulama itu seperti itu karena secara iklim pendidikan dan ilmiah di zaman itu manhaj keilmuannya adalah tauhid. Bahwa seluruh ilmu adalah milik Allah Yang Maha Esa dan mempelajarinya berarti mengesakan Allah. Bukan sekuler seperti sekarang. Kita dididik dari kecil sudah dikotak-kotakan dengan adanya jurang ilmu yang dalam. Oleh karenanya, untuk menciptakan iklim yang seperti dulu lagi menjadi tidak mudah. Untuk menciptakan orang yang ahli ekonomi te...

Meskipun Buta, Ulama ini Mampu Menghafal Lebih Dari Seratus Baris Setiap Hari

Gambar
Abu As Samra Adh Dharir merupakan seorang ulama besar madzhab Asy Syafi’i yang buta. Meski demikian beliau tetap bermujahadah dalam menghafal, dengan cara ditalqin. Hingga dalam setiap harinya beliau berhasil menghafal lebih dari seratus baris. Karena kepandaian serta toleransinya, meski bermadzhab Asy Syafi’i, ketika beliau berfatwa, maka fatwa disesuaikan dengan madzhab si penanya. ( Ad Durar Al Munadzdzam fi Ziyarah Al Jabal Al Muqaththam , hal. 608) Sering sekali keterbatasan membuat pemiliknya termotivasi dan bersemangat. Dan sering sekali kelebihan membuat pemiliknya terlena sehingga melupakan dan tidak mensyukurinya.

Ketekunan Mengalahkan Kebodohan

Gambar
Imam Al Muzani sebelum berguru kepada Imam Asy Syafi’i lamban dalam berfikir. Setelah berguru kepada Imam Asy Syafi’i dalam satu hari beliau menghafal seratus baris. Berkali-kali beliau membaca di hadapan Imam Asy Syafi’i kitab   Ar Risalah , dan mengulang-ulang selama 50 tahun hingga mendapatkan banyak faidah dari kitab itu. Imam Asy Syafi’i pun berkata, “Al Muzani sebelumnya lamban berfikir, namun  ia mampu menguranginya dengan kerajianannya.” ( Ad Durar Al Munadzdzam fi Ziyarah Al Jabal Al Mutahtham , hal. 507) Batu yang keras apabila ditetesi air terus menerus pada akhirnya akan berlubang juga. Seorang yang mempunyai bakat kecerdasan namun tidak tekun, kecerdasannya itu tidak bermanfaat bagi dirinya kecuali hanya sesaat saja. Ketekunan mengantarkan seseorang pada keberhasilan. Sebagaimana kemalasan mengantarkan seseorang pada kehinaan.