Salah Paham tentang Dzikir


Ada anggapan sebagian orang, jika orang yang berdzikir tidak mampu menghentikan perbuatan maksiatnya, maka artinya orang itu belum berdzikir. Jika seorang koruptor berdzikir, artinya koruptor itu belum berdzikir.

Anggapan di atas bisa menjerumuskan banyak orang terutamanya orang-orang awam yang baru ingin memulai berdzikir. Bisa-bisa mereka menjadi tidak ingin berdzikir. Hanya gara-gara takut belum bisa menghentikan perbuatan maksiatnya. Dzikir menjadi sesuatu yang menyeramkan dan momok yang menakutkan baginya, bukan sebuah keasyikan dan meraih manfaat yang besar di dalamnya. Kasus ini sama seperti orang yang berpendapat, jilbabkan dulu hati sebelum menjilbabkan diri. Karena hati belum berjilbab juga, akhirnya orang tersebut tidak berjilbab hingga matinya. Padahal perintah berjilbab itu ditujukan pada menutup aurat secara fisik, sedangkan masalah hati adalah urusan dia dengan Allah. Mudah-mudahan saja dengan berjilbab, hati dan perbuatannya akan lebih baik lagi daripada sebelumnya, sebagaimana fisiknya yang sudah mengikuti perintah Allah.

Ketika muslimah sudah berjilbab, tidak mungkin dia berada di tempat-tempat maksiat. Karena jilbab itu membuat dirinya malu hingga akhirnya dia menjauh dari tempat-tempat seperti itu atau dia melepaskan jilbabnya untuk memperturutkan nafsu syahwatnya. Jika begini, mana yang lebih mulia, mana yang lebih bisa menjaga diri, dan mana yang lebih bersih hatinya?

Baik, mari kita kembali ke topik semula, yaitu meluruskan kesalahpahaman tentang dzikir. Saya merasa terpanggil untuk meluruskannya, salah satunya dengan analogi jilbab di atas. Berikut saya sajikan tanya jawab imajiner tentang dzikir. Semoga bermanfaat.

Apakah manfaat dzikir?
Dzikir secara bahasa artinya mengingat. Sedangkan definisi syara’ menegaskan bahwa dzikir berarti mengingat Allah. Berdzikir bisa dengan lisan maupun hati. Lebih afdhol adalah dengan lisan dan hati. Tapi jika tidak bisa keduanya sekaligus, jangan ditinggalkan semuanya. Lakukan yang mudah kita lakukan di awal kita berdzikir. Karena pada hakikatnya dzikir itu memiliki manfaat yang sangat besar bagi orang-orang yang berdzikir. Cukup kiranya saya sebutkan beberapa di antaranya, misalnya dzikir itu dapat memberikan ketenteraman pada hati, memberikan pahala yang besar, menjauhkan diri dari segala kemaksiatan dan kemunafikan.

Jika seorang penjahat berdzikir tapi dia masih berbuat maksiat, apakah dzikir itu tidak berguna baginya? Apakah lebih baik baginya untuk tidak berdzikir agar tidak mengotori makna dzikir itu sendiri?
Dzikir, sebagaimana yang saya sebutkan di atas memiliki banyak manfaat dan semua manfaat itu dapat kita temukan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tidak ada ketentuan bahwa penjahat tidak boleh berdzikir atau yang boleh berdzikir itu hanya orang yang hatinya sudah bersih dan perbuatannya sudah baik. Perintah berdzikir ditujukan kepada setiap muslim baik tua maupun muda, pria maupun wanita, dari penjahat hingga alim ulama. Maka, setiap ibadah yang sudah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, siapapun orangnya akan mendapat manfaat yang besar di dalamnya.

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaffat 143 – 144)

Artinya, kalau saja Nabi Yunus bukan orang yang banyak berdzikir, niscaya dia akan berada di dalam perut ikan paus hingga hari kiamat. Banyak berdzikir, mengeluarkan orang yang berdzikir dari kesulitan hidup yang dialaminya. Seorang ahli maksiat yang tidak berdzikir, niscaya hidupnya akan berada di perut maksiat hingga hari kiamat.

Syaikh Said Hawwa dalam bukunya, Jalan Ruhani, mengatakan teruslah berdzikir sekalipun pada saat awal dzikir, kita belum merasakan ketenteraman hati. Hingga pada akhirnya nanti, Allah akan memberikan ketenteraman pada hatimu yang sudah merupakan janji-Nya. “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar’Ra’d: 28)

Syaikh Maulana Zakariyya Al-Kandhalawy dalam kitabnya yang berjudul Fadhail Amalmenyebutkan sebuah kisah, sebagai berikut: Mulla Ali Qari berkata, “Seorang murid telah mengeluh kepada gurunya dengan berkata, ‘Aku telah berdzikir, tetapi hatiku tetap lalai’. Gurunya menjawab, ‘Hendaklah kamu teruskan dzikir itu dan bersyukurlah kepada Allah yang telah melimpahkan taufik kepada anggota tubuhmu (lidahmu) untuk menyebut-Nya. Sedangkan untuk kehadiran hati, maka berdoalah kepada Allah Swt..”

Dikisahkan, pada suatu ketika ada orang bertanya kepada Buya HAMKA, “Pak Kyai, ada orang yang rajin shalat tapi kok masih berbuat maksiat, orang yang lain tidak rajin shalat tapi baik hati. Apakah itu artinya shalat itu tidak bermanfaat?” Buya HAMKA menjawab, “Anakku, kalau orang rajin shalat tapi masih maksiat, dia akan lebih banyak berbuat maksiat jika meninggalkan shalat. Sedangkan orang yang tidak rajin shalat tapi baik hati, dia akan jauh lebih baik jika rajin mengerjakan shalat.”

Di dalam kisah ini terlihat, dzikir dan shalat ditempatkan pada tempat yang semestinya. Dzikir hadir dengan membawa ketenangan yang ada di dalamnya. Dzikir bukanlah suatu kegiatan yang menakutkan sehingga harus ditinggalkan. Sehingga orang tidak berani mengerjakan shalat hanya gara-gara masih berbuat maksiat. Pada akhirnya shalat tidak dikerjakan, maksiat jalan terus. Jika shalat tidak lagi dikerjakan maka tiang iman sudah runtuh. Selamat jalan ketaatan dan selamat datang kemaksiatan!

Jadi, apakah yang harus dikerjakan bagi ahli maksiat yang berdzikir?
Berdzikirlah sebanyak-banyaknya. Sesungguhnya dalam hidup ini sering kita lalui dengan proses dan proses itu membutuhkan waktu yang kadang tidak sebentar. Sekali dia berdzikir mungkin dia belum merasakan kelezatannya. Kemudian dia berdzikir lagi, mulailah terasa manfaatnya. Dia berdzikir lagi mulai ada maksiat yang dijauhkannya walaupun tidak semuanya. Terus menerus dia berdzikir hingga ia merasakan kenikmatan di dalamnya, menangis ketika mengingat-Nya, bertaubat di jalan-Nya, senang berbuat baik, dan menjauhi kemaksiatan.

Batu yang keras sekalipun akan berlubang bila di tetesi air sedikit demi sedikit dan terus-menerus. Hati yang keras sekalipun akan luluh dengan cahaya dzikir yang terus menyeruak masuk ke dalamnya. Jangan berhenti berdzikir walaupun engkau belum merasakan kenikmatan di dalamnya. Jangan berhenti berdzikir walaupun masih ada kemaksiatan yang engkau lakukan. Teruslah berdzikir hingga hati menjadi tenteram dan segala kemaksiatan terjauhkan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari dalam Perjuangan Bangsa

Manfaat Mempelajari Tafsir Alquran

Akibat Berbuat Zalim

Tiga Sebab Keruntuhan Peradaban Islam di Andalusia

Mengapa Banyak Orang Barat Menjadi Ateis?